Minggu, 15 Februari 2015

Foto, yang katanya Untuk buku Yasin #AllahHuakbar

Foto, foto dan foto...
Untuk kesekian kalinya berfoto dengan malaikat kami, tapi saat akan berfoto yang satu ini, Beliau memeluk erat dengan mengatakan "foto ini untuk di buku Yasin kelak", Saat itu juga kakakku sedang mencari fokus kamera. Terbayang seberapa lama aku dipeluknya dengan mengingat ada banyak pertanyaan bermunculan yang mengisi pikiran ku dan jantung yang berdebar-debar. Kenapa beliau memelukku erat, kenapa saat berfoto harus mengatakan foto itu untuk buku Yasin nya, kenapa harus mengatakan itu, kenapa dan terus kenapa. Masih terus berfoto-foto tapi aku hanya senyum-senyum tipuan, karena pikiran ku sudah tak karuan lagi. Mengingat sudah beberapa kali memimpikan nya akan pergi meninggalkan kami. Ya Allah ya Tuhan ku... tak putus doa-doa kami untuk Ke Dua Orang tua kami. Sehatkan mereka selalu, angkat semua penyakit yang mereka rasakan, panjangkan umurnya, hilangkan beban pikiran mereka terutama dalam memikirkan kami anak-anaknya, ya Allah beri kesejukan di dalam hati mereka, ampunkan segalah kesalahan dan dosa-dosa mereka ya Allah, beri kami kesempatan dan bantu kami membahagiakan mereka ya Allah. Aamiin yarrobbal allamin

Sabtu, 24 Januari 2015

Takut Ditinggalkan, malaikat ku #Ibu

Menjadi anak bungsu selama 23 tahun, selama 23 tahun merasakan kasih sayangnya, perhatiannya, melihat senyum dan kesedihan di wajahnya juga belaiannya. Berdetak jantuk ini setiap tangan hangatnya menyentuh kepala dan membelai rambut panjang ini. Dan belaian itu kurasakan lagi 2 hari yang lalu saat aku mendatanginya dan langsung ikut berbaring di dekat nya dan memeluknya, yang tengah berbaring dan menonton Jodha Aqbar, beliau langsung berkata "Ibu kedinginan, kamu dingin tidak?", aku langsung duduk dan menjawab "pakai celana panjang dan selimut" tapi beliau tidak menjawabnya lagi, dan tiba-tiba menanyakan tempat kerja baru Ku, " Nak, bagaimana kerjanya? Enak tidak? Dikasih makan tidak?". Aku langsung menaruh kepala ku di atas perut nya dan memeluknya. Dan beliaupun mulai menyentuh kepala dan membelai rambut ini, tak kuasa aku menjawab pertanyaannya dan karna ingin menikmati kasih sayangnya itu. saat beliau mendapat jawaban dari ku, beliau tersenyum. Rasa lelah seharian bekerja dan melanjutkan kuliah hilang kala dekat dengannya, mendengar detak jantungnya, merasakan hangat tubuhnya. Apalagi jika saat makan, selalu makanan hangat yang di hidangkan kepada ku, agar aku lahap dan makannya banyak. Tak ada rasa takut dan malu bila ingin bermanja dengannya, memeluknya saat waktu santai sudah terbiasa dalam keseharianku, mencium pipi nya saat ingin meninggalkannya dari rumah. Tapi tetap saja jantung ini bergetar dan pikiran ini penuh rasa takut, takut akan kehilangan, takut tak bisa lagi aku melakukannya. Dia hidup ku, semangat ku, juga perjuangan ku. Apa jadi nya aku tanpa malaikat yang di berikan Allah SWT ini dalam membesarkan aku merawat dan menjaga keluarga ini.

Ya Allah SWT ampuni Dosa Orang tua ku, beri kesehatan dan angkatkan semua  rasa sakitnya, panjangkan umur nya ya Allah SWT, hilangkan semua beban pikirannya khususnya kepada kami anak-anaknya, beri kesejukan di dalam hatinya ya Allah SWT, beri kami waktu untuk bersama-sama, beri kami kesempatan untuk menghapus dosa-dosa kami.

Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, sampai hari ini engkau masih memberikan limpahan rahmat Mu kepada keluarga kami, masih utuhnya keluarga ku, rizky yang terus mengalir, hati yang masih selalu mengingat Mu.

Subhanallah ya Allah SWT jaga kami selalu, selalu dalam jagaan Mu, Lindungan Mu, Penglihatan Mu di manapun kami berada. Jauhkan kami dari segala godaan Syaitan dan hawa nafsu kami. Ya Allah SWT hamba memohon kepada Mu agar selalu di dalam hati kami, jangan pernah jauh dari kami ya Allah SWT. selalu beri petunjuk Mu agar kami selalu di dalam jalan Mu Agama Mu dan keridhoan Mu ya Robb. Kabulkan semua doa hamba ya Allah, Doa Orang tua ku, Doa-doa keluarga ku. Amin amin amin ya Robb

Selasa, 07 Oktober 2014

Warisan hanya kenangan, Haji Jadi Impian

Warisan hanya kenangan, Haji jadi impian

Di tahun yang modern ini mencari kekayaan sangatlah sulit, namun bagi para koruptor ini bukanlah hal sulit. Namun, ketika kekayaan itu sulit di dapat, yang kami lakukan hanya diam. Beberapa tahun berlalu hingga aku lahir, menjadi anak bungsu dari 7 saudara. Mulai tumbuh dan mengerti arti kehidupan. Merasakan adanya perbedaan didalam keluarga besar Ku yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya, seakan tidak percaya kenapa orang lain bisa hidup senang dengan segalanya terpenuhi, sedangkan kami memulai semuanya dari nol dan sendiri. Segala usaha telah dilakukan orang tua ku untuk mencukupin kebutuhan sehari-hari. Dalam membesarkan kami, orang tua ku bekerja keras demi untuk memberi makan, pendidikan dan ilmu agama. Berjualan dari satu sekolah ke sekolah lain, dari satu tempat ke tempat lain demi untuk mengumpulkan uang recehan dari anak-anak SD yang membeli jambu, asinan dan opak Abah Ku.
Abah adalah anak sulung dari Alm.Kakek Pertama. Abah ku punya saudara lagi dari nenek, nenek akrab kami sapa dengan sebutan Nyai. yang menikah lagi dan punya 7 anak. Abah menganggap mereka seperti adik kandung dan tidak membenci nenek yang menikah lagi. Sepeninggalan Alm.Nyai, Abah diberikan rumah dan tanah. Dan Yai adalah panggilan akrab kami untuk adik kandung Alm.Nyai.

Beberapa tahuan kemudian, betapa terkejutnya kami, mengetahui rumah dan tanah warisan Abah sudah berbeda. Rumah kami dihuni keluarga dari yai yang mana adalah keluarga kami juga, dan tanah dijadikan tambak ikan.

Karena semasa hidupnya, yai mengelola semua itu bertahun-tahun, mendapat pendapatan yang terbilang lumayan dari kontrakan dan tambak ikan itu, namun tak satu rupiah pun uang itu mengalir ke kantong Abah Ku. Mengetahui hal itu, kami pun bingung apa yang dilakukan yai. Sempat meminta hak nya kembali, tapi yai malah menjanjikan akan mengganti rumah dan tanah yang baru. Dengan sabarnya Abah menunggu.

Beberapa tahun kemudian, kakak ku kembali meributkan warisan yang kenapa tidak kunjung datang, seperti mengharap pemberian meski mengetahui itu adalah sudah menjadi hak kami.
Mengerti apa maksud dan tujuan yai, Abah pun hanya diam dan ikhlas untuk tidak lagi memikirkan apalagi meminta kembali haknya. Abah menasehati kami semua agar tidak lagi menuntut warisan dari Nyai kepada Yai.

Sempat tidak kami hiraukan mengenai warisan, namun karena perekonomian keluarga saat itu sangat menyedihkan, dengan rumah kontrakan yang seadanya dengan 2 kamar tanpa listrik, yang apabila hujan deras tak menutup kemungkinan air hujan masuk hingga mata kaki dan mengalir kesemua tempat. Dan kalau dalam keadaan banjir, orang tua ku tetap senyum, menyemangati kami anak-ananknya yang seolah-olah banjir itu adalah permainan. Usaha ikut aliran Listrik tetangga dengan hanya bisa melihat cahaya lampu dari pukul 6 sore hingga pukul 6 pagi adalah solusi kami keluar dari kegelapan, rasa takut akan kehadiran banjir di malam hari. Keadaan ini mau tidak mau membuat kakak ku mencoba lagi mendatangi Yai, dengan menahan amarahnya, tapi setibanya disana, kakak malah mendapat perlakuan yang tidak pantas oleh anak-anak Yai. Dan yai pun tetap memberi janji yang sama.  Menahan rasa sakit hati, kakak Ku pulang dengan tetap bisa menahan kemarahannya dengan memikirkan kesabaran Abah dirumah yang luar biasa sabarnya itu.

Abah adalah orang yang paling mengerti mengenai agama, oleh karena itu Abah mengikhlaskan apa yang terjadi padanya, dengan berusaha keras, Abah tetap bisa menghidupi istri dan 7 anaknya dengan berbagai karakter. Terlepas dari iti Abah tidak lepas dari kewajibannya sebagai seorang muslim dan contoh untuk kami. Abah selalu shalat 5 waktu dan shalat sunah, mendengar ceramah dari radionya yang sudah seumur Ku, membaca Al-Quran adalah kegemaranya dari kecil, hingga sekarangpun masih Abah lakukan setelah shalat. Sempat aku bertanya, "sudah berapa kali Abah hatam baca Al-Quran?" Abah pun menjawab "terakhir menghitung sudah 20 kali, tapi iti sewaktu di madrasa".

Abah tidak pernah memarahi kami, selalu mendoakan dan mendukung apa yang dikerjakan anak-anaknya. Diamnya Abah membuat kami segan untuk berkomunikasi yang berlebihan walaupun hanya untuk bercengkrama. Dan lebih memilih Ibu sebagai tempat jika kami ingin bercengkrama. Namun jika mengenai agama, Abahlah orang pertama yang kami cari untuk bertanya. Walaupun kami ada salah, Abah tetap diam, namun memperlihatkan kemarahannya dengan memberi contoh dari sikapnya. Beberapa contoh yang aku tau dari sikap yang Abah perlihatkan ialah bangun tengah malam untuk shalat tahajud, bagun pagi sebelum adzan subhu, mengerjakan shalat 5 waktu dan shlata sunah, meluangkan waktu untuk membaca Al-Quran dan artinya, mendengarkan ceramah, tidak mau meminta-minta walaupun keadaan susah, kerja keras, percaya dengan penuh dan sabar atas takdir Allah SWT.

Sekarang kami semua sudah mandiri, dengan beragam penghasilan. Namun tetap saja Abah tidak mau duduk diam mengharap pemberian anak-anaknya, Abah memang tidak lagi berjualan di sekolah dasar seperti dulu, namun Abah menjual barang-barang bekas yang apabila tetangga ada yang menjual plastik dan kardus yang tak lagi di gunakan, seringkali Abah keluar rumah dan menjual kardus-kardus dan plastik hanya karena tidak mau lama-lama istirahat di rumah. Kami tak ingin terjadi sesuatu dengan Abah, tak terhitung lagi berapa kali kami melarangnya untuk tidak lagi menjual barang-barang bekas itu, tapi Abah tetaplah Abah, jawaban yang kami dapat darinya tak bisa kami jawab lagi, "pekerjaan ini halal nak, duduk manis tidak menghasilkan apapun, dan Alhamdulillah, Allah SWT masih memberikan rizky di usia yang mungkin kebanyakan orang tidak bisa lagi berbuat" dan Abah sedikit melucu di tengah-tengah renungan ku "Lagian badan ini merasa sakit kalau tidak bekerja". Aku hanya senyum dan pergi. Mengucap syukur kepada Allah SWT atas kelahir Ku dari orang tua yang kaya akan ilmu agama membuatku bangga tak terhingga.

Sikap dan prilakunya itu yang membuat kami manaruh niat untuk Insha Allah menaikkan haji Abah. Memulai menabung untuk biaya keberangkatannya adalah rencana mulia kami sebagai anak dalam membalas kasih sayangnya, walaupun itu kasih sayang itu tidak pernah bisa terbayarkan oleh apapun. Kami berharap disetiap doa yang kami panjatkan kepada Allah SWT, agar Abah dan Ibu serta keluarga kami sehat dan panjang umur, hingga apa yang kami rencanakan bisa terwujud. Dan selagi kami menabung, kami tetap bisa berkumpul dengan melewati Ramadhan, merayakan Idul fitri dan Idul Adha bersama-sama,  amin.

Senin, 29 September 2014

Hambatan berkomunikasi di lingkungan kerja

Saya melakukan komunikasi setiap harinya, baik antar pribadi ataupun komunikasi kelompok kecil. Baik di Lingkungan keluarga, kampus bahkan di tempat saya bekerja, Namun tetap saja saya mengalami hambatan-hambatan dalam berkomunikasi.

Contohnya di dalam lingkungan Hotel dimana tempat saya bekerja pada Front Office Department sebagai receptionist, yang mana saya setiap harinya selalu bertemu dengan banyak tamu yang pastinya juga memiliki sifat dan watak yang berbeda-beda, dari orang biasa sampai orang yang di anggap penting atau VVIP. Sering menerima pujian dan tak jarang juga mengatasi complaint sudah menjadi hal yang biasa disepanjang jam saya bekerja.
Hal-hal yang menghambat komunikasi baik secara internal maupun external kerapkali terjadi.
* Hambatan Internal didalam Front Office Department ialah miscommunication antar staff, Lupa untuk over handle dan Lama dalam mem-follow-up, ini karena adanya 3 shift dalam satu hari yang pastinya berbeda-beda juga dalam hal penanganan, daya ingat, bahkan kecepatan antar staff.

* Dan beberapa hambatan external yaitu,
- Pemahaman yang belum banyak diketahui oleh semua tamu mengenai standar operasional prosedur (SOP) karena tidak semua tamu pernah menginap dihotel atau tau mengenai SOP itu, hingga menimbulkan berbagai persepsi dan argument saat mereka sudah berada di lingkungan hotel.
- Hambatan lainnya ialah kurang atau bahkan tidak ada respon dari tamu itu sendiri.
- Bekerja dalam situasi yang crowded membuat saya harus cerdas dan cepat dalam bekerja, sehingga sebisa mungkin untuk bekerja dengan tidak membuang waktu, Contohnya, tetap melayani tamu yang ada di depan saya dan ketika ada telpon saya tetap bisa mengangkat telpon layaknya tidak ada tamu yang sedang saya handle, intinya mengerjakan dua pekerjaan dalam satu waktu, dengan demikian memininalkan tamu-tamu untuk complaint.
- Perbedaan bahasa, juga menjadi hambatan dalam operasional, karena tourist yang datang pastinya menggunakan bahasa asing (Inggris), sementara tidak semua staff bisa berbahasa inggris, ini adalah salah satu faktor yang membuat tamu untuk complaint, yang membuat sebuah komunikasi itu menjadi tidak berjalan.
- Selanjutnya, karena Hotel baru, media atau peralatan yang kami gunakan juga belum sepenuhnya menunjang pekerjaan kami untuk bekerja lebih cepat saat ini ( faktor teknis).

Beberapa hambatan yang setiap hari saya rasakan, namun tetap tidak menjadi penghalang atau penghambat yang menghentikan langkah saya (kami) dalam bekerja. Semua bisa diatasi asal ada pengertian dari salah satu pihak. Saling menjaga hak-hak satu sama lain menjadi kunci keberlangsungan antara saya dan tamu.
Saat saya menjadi komunikator, saya harus mnjadi komunikator yang baik, dengan bersikap adil dan jujur. Begitu juga saat saya menjadi seorang komunikan adalah menjadi komunikan yang baik, mendengarkan, memahami serta memberi feedback dan solusi bagi tamu saya, sehinga juga menimbulakn feedback atau respon yang baik, kesan yang baik dan pengaruh yang baik diantaranya.

Sabtu, 27 September 2014

Jar of hearts

And who do you think you are?
Runnin' 'round leaving scars
Collecting your jar of hearts
And tearing love apart

You're gonna catch a cold
From the ice inside your soul
So don't come back for me
Who do you think you are?

Jumat, 25 Juli 2014

Kamis, 22 Mei 2014

Sedih, harap ku benar



Sedih, harap ku benar

Hal baru selalu menjadi pemikiran, mendapat yang baik tak selalu mudah—mengharap tak turun hujan dari awan gelap yang sudah berkumpul, takut akan gemuruh dari atas langit—menjadikan kekosongan bagi aku yang belum berkawan ini. Namun tetap menanti cahaya terang meski sudah petang, esok kan menjadi impian dengan cahaya dari langit yang merestui.
Perjalanan panjang dari kota ke kota—memutuskan untuk berdiam di Palembang. Ibu kota tak menjadi hal yang menakutkan, karena niat yang suci masih di bawa di setiap doa—restu orang tua—memutuskan beralih profesi dan masuk dalam dunia baru Media Service. Media service  salah satu department yang ada di dalam dunia pertelevisian, yang terletak di bangunan kantor Metro Tv yang paling kiri kalau kita berjalan dari arah perumahan taman indah—Kurang lebih 100 m setelah gedung Media Indonesia. Perumahan taman indah yang di dalamnnya ada banyak karyawan Metro Tv dan anak-anak magang mengontrak disana. Bila jam istirahat ataupun jam pulang seragam biru hilir-mudik melewati gerbang perumahan itu.
Tapi aku tetap stay di kantor walau bisa pulang untuk merebahkan badan ku bila istirahat setelah makan siang di cafe. Susah payah menyibak ke ruangan sebelah, lega ketika sudah makan dan sholat dzuhur. Menghidupkan lagu-lagu kesukaan dan Duduk di ruangan dengan mengarah ke pintu masuk agar bisa segerah menandai. Tak ada kontak –off.
Teman sesama magang denganku datang membawa makanan dan minuman—sambil bernyanyi lagu kesukaan dan bertanya, “dari mana?” Temanku menjawab, dari mini market dan beli kado “buru-buru cari mini market padahal kami belum makan siang …”
Aku mengangguk. Mencari lagu-lagu lain dan kembali diganggu pertanyaan: kenapa aku jadi memikirkan yang mereka beli? Bagaimana jika aku yang dapat kado itu? Kenapa jadi ingin melihatnya, serta membantu membungkus kadonya? Aku diam menyimak tajam headline news di dinding kantor, sambil mencerna cerita teman magangku tentang mereka yang buru-buru ke mini market dan belum makan siang padahal cafe dua menit dari parkir kendaraannya.
 “Bingung beli apa, dit” katanya, “jadi dia cuma beli gelas yang langsung dengan kotaknya”. Aku mengangguk. Apa ini penting? Apa itu ada gunanya kalau lebih banyak hal prinsipil telah diabaikan di negeri ini? Seperti rencana ke puncak hari ini, yang di rencankan dari kantor dimana tempat aku magang. Yang meskipun bisa saja aku tinggalkan dan memilih istirahat di kamar kecilku—yangtak kurang dari lima menit untuk pulang—tapi malah memutuskan untuk pergi dan berharap tidak ada dia disana nantinya.
 Jalan-jalan merupakan tradisi di bagian ini, beruntungnya saat aku magang saat itu juga hiburan itu ada. Rencana awal tak satupun penunggu ruangan, dan tukar kado salah satu pengisi acara setiba di puncak—aku hanya menunggu petang untuk ke puncak Bogor—dengan waktu yang berbeda-beda karena pekerjaan asal semua sampai disana.
                                                                        ***
Villa Dolken merupakan rumah (penginapan) beratapkan hamparan jerami dan kayu besar sebagai dindingnya—biru air kolam di tengah-tengah sesaat menghilangkan penat, dataran tinggi dan rerumputan serta angin deras dari keluasan menenangkan sifat menyerap panas dari aspal yang dilalui.
Pemikiran yang konyol, karena aku harus bersenang-senang dengan orang yang tak ingin aku lihat. Aku larang untuk menghubungi dan mengetahui semua kegiatanku—Setelah sampai di puncak dan parkir di Villa Dolken. Gila!
Dan itu: apa kemanjaan atau ritual awal yang sudah menguasai dan mengendalikan aku?
“Sial…!” gumamku. Membawa  jacket  dan tas, menuju kamar yang sudah diberi nama di depan pintu, merasakan desiran angin—meski teling dipenuhi kicauan teman-teman yang membicarakan dua mobil yang sepertinya tidak jadi berangkat karena pekerjaan yang belum rampung. Aku mencoba memainkan handphone agar tidak ikut memikirkan apa yang sedang dibicarakan. Mencoba meneguk air mineral untuk menenangkan pikiranku. Namun masih saja terdengar dan sempat menggambarkan hal itu dibenakku. Mendekati teman-teman yang lain yang berada di dekat kolam dengan membawakan cemilan dan minuman yang kami bawa dari kantor.
Aku mulai lupa akan kejengkelanku dan menikmati hiburan yang ada, tanpa dia tentunya—menenangkan emosi yang tadinya mendidih didera jenkel dan pitam oleh gelisah bila melihatnya—setelah tiga jam berada disana, tiga mobil tidak kunjung datang.
“Apa yang sebenarnya terjadi dengan diriku, kenapa aku jadi begitu dungu dan mau di bodohi perasaan sendiri?” gumamku.
Angin berhembus, semakin larut—asap sate—sampai di hidung bersama dingin yang penuh kebingungan. Di jalanan yang tidak tau akan tiba pukul berapa, kilasan yang mengajarkan fantasi liar, dengan membayangkan terguling dan meledak bersama percik bunga api dari gelusuran mobil pribadi di aspal—hanya mengisi pikiran yang sedang kosong.
Tapi tidak apa-apa sampai empat jam itu. Aku meraih HP dan mencari gambaran. Ada isyarat akan tiba—tapi hanya dengan caraku. Tak mau terlihat. Aku menarik nafas. “Dia ada atau tidak di dalam mobil yang melaju itu?” desisku. Apa hanya tiga mobil yang akan tiba , tanpa dia yang tak ingin aku liat sebelumnya. Meski kamar kecilku dekat dengan kontrakannya, tetap saja membuatku jengkel dibuatnya—dari perdebatan yang menghiasi perjalanan kami di ibu kota.
                                                                        ***
Dua tahun lalu, ketika pertama masuk kuliah–setelah pontang-panting mengikuti perkuliahan dengan keringat seehabis pulang kerja—serta ada dana untuk membeli motor: aku merasa benar-benar nyaman kuliah. Tapi, banyak teman dan bangga dengan pekerjaanku: aku sebenarnya minder.
Di luar pekerjaan aku merasa cuma anak sih swasta yang tak aktif yang mencoba mengetahui cara pergaulan di kota—penampilan wangi, pakaian bagus, serta cara hidup yang penuh dengan belanja dan traktir makan. Suasana batin ‘aku ini bukan siapa-siapa’ kekal menaungi kubah perasaan, menyebabkan selalu terbentang jurang dengan jembatan cemas akan menolak setiap akan ada yang menyukai.
Rasa yang selalu menghantui dan terus muncul mengikuti seperti bayangan, tak peduli banyak sejawat dan bawahan yang mengapresiasiku sebagai perempuan yang punya potensi dan bermasa depan cerah. Perasaan anak swasta yang tak aktif, yang tersesat di tengah kampus nasional di antara anak-anak orang mapan itu tak pernah bisa dihapus, karenanya semua kecemasan dan kekecewaan itu dilarikan ke dalam kerja gila-gilaan.
Dua teman yang selalu menghibur selama empat jam di kampus lebih dari cukup membuatku tersenyum, salah satunya dia. Menyimpulkan nama menjadi kecebong adalah caraku untuk menganggap kami selalu ada. Sama halnya pacar yang tak ada kabar dari kekasihnya, tak ada satu dari kecebong, jadi menambah pertanyaan—jita tak ada di depan mata.
Pada mulanya duduk di kanan tempat duduknya, saat enggan duduk di belakang, yang selalu menggangu konsentrasi saat belajar. Sambil menunggu dosen ke dua, ada banyak teman yang bercerita. Semua hanya perbincangan ringan, kecuali yang aku anggap kecebong ini terasa nyaman saat kami bercanda-gurau.
Selalu ada perdebatan yang terjadi, yang saya anggap itu hal biasa—berlangsung lama. Aku sering mengucapkan hal-hal yang aku anggap biasa bila di dengar mereka. “justru yang membuat saya kangen dengan kalian adalah perdebatan seperti ini, malam tanpa bintang itu kurang cantik”
Dia menjawab, “Tapi kalau keseringan berdebat itu juga tidak baik, apalagi sampai tidak ada tegur sapa berhari-hari”. Semester tiga—memutuskan untuk magang ke Jakarta, enam bulan juga bersama dia—satu kecebong tetap tinggal di Palembang. Berjanji pada diri kalau pun ada hal yang di perdebatkan kecebong akan tetap ada—menghargai mereka. Meski berulangkali rasa malas, marah dan benci merasuki pikiran ini—tak sejalan.
Senang karena ada yang menjaga dan mengawasi selama di kota orang, tapi tetap perdebatan tak hilang. Sering merasa bisa melakukan segala sesuatu membuatku tak membutuhkan dia—selalu dalam perhatiannya. Hiburan dan makanan selalu diusahankanya untuk ku. Berdetak jantung dan berpikir apa yang membuatnya jauh berbeda dari biasa.
“Kenapa malas makan, bagaimana kalau sakit? minum saja bisa lupa, apa lagi makan” katanya. Dan aku menjawab: aku makan jika aku merasa lapar dan itu juga jika aku mau memakan makanan itu, tidak asal makan—memperhatikan dan menjaga makanan ku. Manja dan sifat tak peduliku bisa diatasinya berdasarkan rasa empatinya terhadapku. Pintkau: jangan ada perasaan yang merubah rasa dan hubungan ini yang kita bangun dari awal aku duduk di kanan bangkunya.
                                                                        ***
Riuh mobil dan suara gembira setelah berlama-lama diperjalanan pun terdengar, tiba dengan wajar tak cerah namun tetap memberikan senyum—Acara tukar kado—silir berganti membuka kertas nama-nama yang di undi dalam gelas dan saling memberikan kado bagi nama yang terambil—mengangkat satu kertas namun ku kembalikan dan mengambil kertas yang lain, menyebut namanya pun enggan sama seperti yang ku gambarkan siang hari. kenapa harus namanya yang ku ambil—kado darinya.
Siapa yang tau apa yang akan terjadi esok—pikiran ku hanya satu, untuk ku segerahkan tidur dan melupakan yang terjadi malam ini. “Anggap saja aku bermimpi terlebih dulu, kini aku harus tidur” gumamku. Permainan satu-persatu dimainkan dengan keceriaan yang di perlihatkan—tak ada yang tau biru air kolam itu akan menjadi tempat terakhir kami dalam menghabiskan waktu di Vila Dolken.
Tak butuh pelampung mahal dan kaca mata renang yang bagus, saat masuk ke kolam dengan dorongan yang tak bisa ku helakkan lagi dari mereka yang menemukanku dari persembunyian. Kepanikan yang luar biasa ditambah dinginnya air kolam membuat ku belum sadar akan siapa yang menolong—berharap jangan pernah melepaskan tanganku—menepi.
Mengarah ke sudut kolam, baru terlihat siapa yang menolong ,“Kenapa kamu menolong saya?”. Pertanyaan yang muncul meski panik belum hilang, entah karena dia juga merasakan kepanikanku, tak dihiraukan dan tak ada jawaban atas pertanyaan itu.
Semakin penat memikirkn apa yang terjadi, tak ada ucapan terimakasih hanya senyum yang ku perlihatkan sebagai isyarat terimaksihku. Aku duduk dan merenungkan: kenapa harus dia? Kenapa harus dia?  Dan kenapa harus dia? Merapikan baju-baju dan bergegas untuk pulang karena pekerjaan sudah menanti—Satu mobil dengan dia, namun tak ada lagi rasa jengkel—Jakarta.
Last day  dan pulang ke Palembang, kembali memulai aktifitas yang biasa kami lakukan, yaitu kerja dan kuliah. Namun tidak dengan kebiasaan kami—jalan-jalan, makan dan shalat magrib bersama-sama. Merindukan sosok cerewet dan manja, menginginkan penengah dikalah perdebatan terjadi, mengharuskan ada bahan untuk di perdebatkan, itulah tiga kecebong.
Dan, setelah semua nampak berjalan seperti biasa—tak sama yang kami rasa. Ternyata menyadari kenapa perubahan itu terjadi menjelang aku berkawan termasuk dengan hujan yang besar sekalipun—tetapi tetap ada senyum diantara kecebong. Karena aku bisa apa? Bisa apa aku! Lemah dan papa di hadapan misteri Ilahi yang membungkam itu. Mutlak minder sebagai sahaya dan kami yang haya bisa berharap sekedar ingin punya teman yang baik, bahkan pendamping hidup yang terbaik.