Untuk kesekian kalinya berfoto dengan malaikat kami, tapi saat akan berfoto yang satu ini, Beliau memeluk erat dengan mengatakan "foto ini untuk di buku Yasin kelak", Saat itu juga kakakku sedang mencari fokus kamera. Terbayang seberapa lama aku dipeluknya dengan mengingat ada banyak pertanyaan bermunculan yang mengisi pikiran ku dan jantung yang berdebar-debar. Kenapa beliau memelukku erat, kenapa saat berfoto harus mengatakan foto itu untuk buku Yasin nya, kenapa harus mengatakan itu, kenapa dan terus kenapa. Masih terus berfoto-foto tapi aku hanya senyum-senyum tipuan, karena pikiran ku sudah tak karuan lagi. Mengingat sudah beberapa kali memimpikan nya akan pergi meninggalkan kami. Ya Allah ya Tuhan ku... tak putus doa-doa kami untuk Ke Dua Orang tua kami. Sehatkan mereka selalu, angkat semua penyakit yang mereka rasakan, panjangkan umurnya, hilangkan beban pikiran mereka terutama dalam memikirkan kami anak-anaknya, ya Allah beri kesejukan di dalam hati mereka, ampunkan segalah kesalahan dan dosa-dosa mereka ya Allah, beri kami kesempatan dan bantu kami membahagiakan mereka ya Allah. Aamiin yarrobbal allamin
Minggu, 15 Februari 2015
Foto, yang katanya Untuk buku Yasin #AllahHuakbar
Untuk kesekian kalinya berfoto dengan malaikat kami, tapi saat akan berfoto yang satu ini, Beliau memeluk erat dengan mengatakan "foto ini untuk di buku Yasin kelak", Saat itu juga kakakku sedang mencari fokus kamera. Terbayang seberapa lama aku dipeluknya dengan mengingat ada banyak pertanyaan bermunculan yang mengisi pikiran ku dan jantung yang berdebar-debar. Kenapa beliau memelukku erat, kenapa saat berfoto harus mengatakan foto itu untuk buku Yasin nya, kenapa harus mengatakan itu, kenapa dan terus kenapa. Masih terus berfoto-foto tapi aku hanya senyum-senyum tipuan, karena pikiran ku sudah tak karuan lagi. Mengingat sudah beberapa kali memimpikan nya akan pergi meninggalkan kami. Ya Allah ya Tuhan ku... tak putus doa-doa kami untuk Ke Dua Orang tua kami. Sehatkan mereka selalu, angkat semua penyakit yang mereka rasakan, panjangkan umurnya, hilangkan beban pikiran mereka terutama dalam memikirkan kami anak-anaknya, ya Allah beri kesejukan di dalam hati mereka, ampunkan segalah kesalahan dan dosa-dosa mereka ya Allah, beri kami kesempatan dan bantu kami membahagiakan mereka ya Allah. Aamiin yarrobbal allamin
Sabtu, 24 Januari 2015
Takut Ditinggalkan, malaikat ku #Ibu
Menjadi anak bungsu selama 23 tahun, selama 23 tahun merasakan kasih sayangnya, perhatiannya, melihat senyum dan kesedihan di wajahnya juga belaiannya. Berdetak jantuk ini setiap tangan hangatnya menyentuh kepala dan membelai rambut panjang ini. Dan belaian itu kurasakan lagi 2 hari yang lalu saat aku mendatanginya dan langsung ikut berbaring di dekat nya dan memeluknya, yang tengah berbaring dan menonton Jodha Aqbar, beliau langsung berkata "Ibu kedinginan, kamu dingin tidak?", aku langsung duduk dan menjawab "pakai celana panjang dan selimut" tapi beliau tidak menjawabnya lagi, dan tiba-tiba menanyakan tempat kerja baru Ku, " Nak, bagaimana kerjanya? Enak tidak? Dikasih makan tidak?". Aku langsung menaruh kepala ku di atas perut nya dan memeluknya. Dan beliaupun mulai menyentuh kepala dan membelai rambut ini, tak kuasa aku menjawab pertanyaannya dan karna ingin menikmati kasih sayangnya itu. saat beliau mendapat jawaban dari ku, beliau tersenyum. Rasa lelah seharian bekerja dan melanjutkan kuliah hilang kala dekat dengannya, mendengar detak jantungnya, merasakan hangat tubuhnya. Apalagi jika saat makan, selalu makanan hangat yang di hidangkan kepada ku, agar aku lahap dan makannya banyak. Tak ada rasa takut dan malu bila ingin bermanja dengannya, memeluknya saat waktu santai sudah terbiasa dalam keseharianku, mencium pipi nya saat ingin meninggalkannya dari rumah. Tapi tetap saja jantung ini bergetar dan pikiran ini penuh rasa takut, takut akan kehilangan, takut tak bisa lagi aku melakukannya. Dia hidup ku, semangat ku, juga perjuangan ku. Apa jadi nya aku tanpa malaikat yang di berikan Allah SWT ini dalam membesarkan aku merawat dan menjaga keluarga ini.
Ya Allah SWT ampuni Dosa Orang tua ku, beri kesehatan dan angkatkan semua rasa sakitnya, panjangkan umur nya ya Allah SWT, hilangkan semua beban pikirannya khususnya kepada kami anak-anaknya, beri kesejukan di dalam hatinya ya Allah SWT, beri kami waktu untuk bersama-sama, beri kami kesempatan untuk menghapus dosa-dosa kami.
Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, sampai hari ini engkau masih memberikan limpahan rahmat Mu kepada keluarga kami, masih utuhnya keluarga ku, rizky yang terus mengalir, hati yang masih selalu mengingat Mu.
Subhanallah ya Allah SWT jaga kami selalu, selalu dalam jagaan Mu, Lindungan Mu, Penglihatan Mu di manapun kami berada. Jauhkan kami dari segala godaan Syaitan dan hawa nafsu kami. Ya Allah SWT hamba memohon kepada Mu agar selalu di dalam hati kami, jangan pernah jauh dari kami ya Allah SWT. selalu beri petunjuk Mu agar kami selalu di dalam jalan Mu Agama Mu dan keridhoan Mu ya Robb. Kabulkan semua doa hamba ya Allah, Doa Orang tua ku, Doa-doa keluarga ku. Amin amin amin ya Robb
Selasa, 07 Oktober 2014
Warisan hanya kenangan, Haji Jadi Impian
Warisan hanya kenangan, Haji jadi impian
Di tahun yang modern ini mencari kekayaan sangatlah sulit, namun bagi para koruptor ini bukanlah hal sulit. Namun, ketika kekayaan itu sulit di dapat, yang kami lakukan hanya diam. Beberapa tahun berlalu hingga aku lahir, menjadi anak bungsu dari 7 saudara. Mulai tumbuh dan mengerti arti kehidupan. Merasakan adanya perbedaan didalam keluarga besar Ku yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya, seakan tidak percaya kenapa orang lain bisa hidup senang dengan segalanya terpenuhi, sedangkan kami memulai semuanya dari nol dan sendiri. Segala usaha telah dilakukan orang tua ku untuk mencukupin kebutuhan sehari-hari. Dalam membesarkan kami, orang tua ku bekerja keras demi untuk memberi makan, pendidikan dan ilmu agama. Berjualan dari satu sekolah ke sekolah lain, dari satu tempat ke tempat lain demi untuk mengumpulkan uang recehan dari anak-anak SD yang membeli jambu, asinan dan opak Abah Ku.
Abah adalah anak sulung dari Alm.Kakek Pertama. Abah ku punya saudara lagi dari nenek, nenek akrab kami sapa dengan sebutan Nyai. yang menikah lagi dan punya 7 anak. Abah menganggap mereka seperti adik kandung dan tidak membenci nenek yang menikah lagi. Sepeninggalan Alm.Nyai, Abah diberikan rumah dan tanah. Dan Yai adalah panggilan akrab kami untuk adik kandung Alm.Nyai.
Beberapa tahuan kemudian, betapa terkejutnya kami, mengetahui rumah dan tanah warisan Abah sudah berbeda. Rumah kami dihuni keluarga dari yai yang mana adalah keluarga kami juga, dan tanah dijadikan tambak ikan.
Karena semasa hidupnya, yai mengelola semua itu bertahun-tahun, mendapat pendapatan yang terbilang lumayan dari kontrakan dan tambak ikan itu, namun tak satu rupiah pun uang itu mengalir ke kantong Abah Ku. Mengetahui hal itu, kami pun bingung apa yang dilakukan yai. Sempat meminta hak nya kembali, tapi yai malah menjanjikan akan mengganti rumah dan tanah yang baru. Dengan sabarnya Abah menunggu.
Beberapa tahun kemudian, kakak ku kembali meributkan warisan yang kenapa tidak kunjung datang, seperti mengharap pemberian meski mengetahui itu adalah sudah menjadi hak kami.
Mengerti apa maksud dan tujuan yai, Abah pun hanya diam dan ikhlas untuk tidak lagi memikirkan apalagi meminta kembali haknya. Abah menasehati kami semua agar tidak lagi menuntut warisan dari Nyai kepada Yai.
Sempat tidak kami hiraukan mengenai warisan, namun karena perekonomian keluarga saat itu sangat menyedihkan, dengan rumah kontrakan yang seadanya dengan 2 kamar tanpa listrik, yang apabila hujan deras tak menutup kemungkinan air hujan masuk hingga mata kaki dan mengalir kesemua tempat. Dan kalau dalam keadaan banjir, orang tua ku tetap senyum, menyemangati kami anak-ananknya yang seolah-olah banjir itu adalah permainan. Usaha ikut aliran Listrik tetangga dengan hanya bisa melihat cahaya lampu dari pukul 6 sore hingga pukul 6 pagi adalah solusi kami keluar dari kegelapan, rasa takut akan kehadiran banjir di malam hari. Keadaan ini mau tidak mau membuat kakak ku mencoba lagi mendatangi Yai, dengan menahan amarahnya, tapi setibanya disana, kakak malah mendapat perlakuan yang tidak pantas oleh anak-anak Yai. Dan yai pun tetap memberi janji yang sama. Menahan rasa sakit hati, kakak Ku pulang dengan tetap bisa menahan kemarahannya dengan memikirkan kesabaran Abah dirumah yang luar biasa sabarnya itu.
Abah adalah orang yang paling mengerti mengenai agama, oleh karena itu Abah mengikhlaskan apa yang terjadi padanya, dengan berusaha keras, Abah tetap bisa menghidupi istri dan 7 anaknya dengan berbagai karakter. Terlepas dari iti Abah tidak lepas dari kewajibannya sebagai seorang muslim dan contoh untuk kami. Abah selalu shalat 5 waktu dan shalat sunah, mendengar ceramah dari radionya yang sudah seumur Ku, membaca Al-Quran adalah kegemaranya dari kecil, hingga sekarangpun masih Abah lakukan setelah shalat. Sempat aku bertanya, "sudah berapa kali Abah hatam baca Al-Quran?" Abah pun menjawab "terakhir menghitung sudah 20 kali, tapi iti sewaktu di madrasa".
Abah tidak pernah memarahi kami, selalu mendoakan dan mendukung apa yang dikerjakan anak-anaknya. Diamnya Abah membuat kami segan untuk berkomunikasi yang berlebihan walaupun hanya untuk bercengkrama. Dan lebih memilih Ibu sebagai tempat jika kami ingin bercengkrama. Namun jika mengenai agama, Abahlah orang pertama yang kami cari untuk bertanya. Walaupun kami ada salah, Abah tetap diam, namun memperlihatkan kemarahannya dengan memberi contoh dari sikapnya. Beberapa contoh yang aku tau dari sikap yang Abah perlihatkan ialah bangun tengah malam untuk shalat tahajud, bagun pagi sebelum adzan subhu, mengerjakan shalat 5 waktu dan shlata sunah, meluangkan waktu untuk membaca Al-Quran dan artinya, mendengarkan ceramah, tidak mau meminta-minta walaupun keadaan susah, kerja keras, percaya dengan penuh dan sabar atas takdir Allah SWT.
Sekarang kami semua sudah mandiri, dengan beragam penghasilan. Namun tetap saja Abah tidak mau duduk diam mengharap pemberian anak-anaknya, Abah memang tidak lagi berjualan di sekolah dasar seperti dulu, namun Abah menjual barang-barang bekas yang apabila tetangga ada yang menjual plastik dan kardus yang tak lagi di gunakan, seringkali Abah keluar rumah dan menjual kardus-kardus dan plastik hanya karena tidak mau lama-lama istirahat di rumah. Kami tak ingin terjadi sesuatu dengan Abah, tak terhitung lagi berapa kali kami melarangnya untuk tidak lagi menjual barang-barang bekas itu, tapi Abah tetaplah Abah, jawaban yang kami dapat darinya tak bisa kami jawab lagi, "pekerjaan ini halal nak, duduk manis tidak menghasilkan apapun, dan Alhamdulillah, Allah SWT masih memberikan rizky di usia yang mungkin kebanyakan orang tidak bisa lagi berbuat" dan Abah sedikit melucu di tengah-tengah renungan ku "Lagian badan ini merasa sakit kalau tidak bekerja". Aku hanya senyum dan pergi. Mengucap syukur kepada Allah SWT atas kelahir Ku dari orang tua yang kaya akan ilmu agama membuatku bangga tak terhingga.
Sikap dan prilakunya itu yang membuat kami manaruh niat untuk Insha Allah menaikkan haji Abah. Memulai menabung untuk biaya keberangkatannya adalah rencana mulia kami sebagai anak dalam membalas kasih sayangnya, walaupun itu kasih sayang itu tidak pernah bisa terbayarkan oleh apapun. Kami berharap disetiap doa yang kami panjatkan kepada Allah SWT, agar Abah dan Ibu serta keluarga kami sehat dan panjang umur, hingga apa yang kami rencanakan bisa terwujud. Dan selagi kami menabung, kami tetap bisa berkumpul dengan melewati Ramadhan, merayakan Idul fitri dan Idul Adha bersama-sama, amin.
Senin, 29 September 2014
Hambatan berkomunikasi di lingkungan kerja
Saya melakukan komunikasi setiap harinya, baik antar pribadi ataupun komunikasi kelompok kecil. Baik di Lingkungan keluarga, kampus bahkan di tempat saya bekerja, Namun tetap saja saya mengalami hambatan-hambatan dalam berkomunikasi.
Contohnya di dalam lingkungan Hotel dimana tempat saya bekerja pada Front Office Department sebagai receptionist, yang mana saya setiap harinya selalu bertemu dengan banyak tamu yang pastinya juga memiliki sifat dan watak yang berbeda-beda, dari orang biasa sampai orang yang di anggap penting atau VVIP. Sering menerima pujian dan tak jarang juga mengatasi complaint sudah menjadi hal yang biasa disepanjang jam saya bekerja.
Hal-hal yang menghambat komunikasi baik secara internal maupun external kerapkali terjadi.
* Hambatan Internal didalam Front Office Department ialah miscommunication antar staff, Lupa untuk over handle dan Lama dalam mem-follow-up, ini karena adanya 3 shift dalam satu hari yang pastinya berbeda-beda juga dalam hal penanganan, daya ingat, bahkan kecepatan antar staff.
* Dan beberapa hambatan external yaitu,
- Pemahaman yang belum banyak diketahui oleh semua tamu mengenai standar operasional prosedur (SOP) karena tidak semua tamu pernah menginap dihotel atau tau mengenai SOP itu, hingga menimbulkan berbagai persepsi dan argument saat mereka sudah berada di lingkungan hotel.
- Hambatan lainnya ialah kurang atau bahkan tidak ada respon dari tamu itu sendiri.
- Bekerja dalam situasi yang crowded membuat saya harus cerdas dan cepat dalam bekerja, sehingga sebisa mungkin untuk bekerja dengan tidak membuang waktu, Contohnya, tetap melayani tamu yang ada di depan saya dan ketika ada telpon saya tetap bisa mengangkat telpon layaknya tidak ada tamu yang sedang saya handle, intinya mengerjakan dua pekerjaan dalam satu waktu, dengan demikian memininalkan tamu-tamu untuk complaint.
- Perbedaan bahasa, juga menjadi hambatan dalam operasional, karena tourist yang datang pastinya menggunakan bahasa asing (Inggris), sementara tidak semua staff bisa berbahasa inggris, ini adalah salah satu faktor yang membuat tamu untuk complaint, yang membuat sebuah komunikasi itu menjadi tidak berjalan.
- Selanjutnya, karena Hotel baru, media atau peralatan yang kami gunakan juga belum sepenuhnya menunjang pekerjaan kami untuk bekerja lebih cepat saat ini ( faktor teknis).
Beberapa hambatan yang setiap hari saya rasakan, namun tetap tidak menjadi penghalang atau penghambat yang menghentikan langkah saya (kami) dalam bekerja. Semua bisa diatasi asal ada pengertian dari salah satu pihak. Saling menjaga hak-hak satu sama lain menjadi kunci keberlangsungan antara saya dan tamu.
Saat saya menjadi komunikator, saya harus mnjadi komunikator yang baik, dengan bersikap adil dan jujur. Begitu juga saat saya menjadi seorang komunikan adalah menjadi komunikan yang baik, mendengarkan, memahami serta memberi feedback dan solusi bagi tamu saya, sehinga juga menimbulakn feedback atau respon yang baik, kesan yang baik dan pengaruh yang baik diantaranya.
Sabtu, 27 September 2014
Jar of hearts
And who do you think you are?
Runnin' 'round leaving scars
Collecting your jar of hearts
And tearing love apart
You're gonna catch a cold
From the ice inside your soul
So don't come back for me
Who do you think you are?