Selasa, 07 Oktober 2014

Warisan hanya kenangan, Haji Jadi Impian

Warisan hanya kenangan, Haji jadi impian

Di tahun yang modern ini mencari kekayaan sangatlah sulit, namun bagi para koruptor ini bukanlah hal sulit. Namun, ketika kekayaan itu sulit di dapat, yang kami lakukan hanya diam. Beberapa tahun berlalu hingga aku lahir, menjadi anak bungsu dari 7 saudara. Mulai tumbuh dan mengerti arti kehidupan. Merasakan adanya perbedaan didalam keluarga besar Ku yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya, seakan tidak percaya kenapa orang lain bisa hidup senang dengan segalanya terpenuhi, sedangkan kami memulai semuanya dari nol dan sendiri. Segala usaha telah dilakukan orang tua ku untuk mencukupin kebutuhan sehari-hari. Dalam membesarkan kami, orang tua ku bekerja keras demi untuk memberi makan, pendidikan dan ilmu agama. Berjualan dari satu sekolah ke sekolah lain, dari satu tempat ke tempat lain demi untuk mengumpulkan uang recehan dari anak-anak SD yang membeli jambu, asinan dan opak Abah Ku.
Abah adalah anak sulung dari Alm.Kakek Pertama. Abah ku punya saudara lagi dari nenek, nenek akrab kami sapa dengan sebutan Nyai. yang menikah lagi dan punya 7 anak. Abah menganggap mereka seperti adik kandung dan tidak membenci nenek yang menikah lagi. Sepeninggalan Alm.Nyai, Abah diberikan rumah dan tanah. Dan Yai adalah panggilan akrab kami untuk adik kandung Alm.Nyai.

Beberapa tahuan kemudian, betapa terkejutnya kami, mengetahui rumah dan tanah warisan Abah sudah berbeda. Rumah kami dihuni keluarga dari yai yang mana adalah keluarga kami juga, dan tanah dijadikan tambak ikan.

Karena semasa hidupnya, yai mengelola semua itu bertahun-tahun, mendapat pendapatan yang terbilang lumayan dari kontrakan dan tambak ikan itu, namun tak satu rupiah pun uang itu mengalir ke kantong Abah Ku. Mengetahui hal itu, kami pun bingung apa yang dilakukan yai. Sempat meminta hak nya kembali, tapi yai malah menjanjikan akan mengganti rumah dan tanah yang baru. Dengan sabarnya Abah menunggu.

Beberapa tahun kemudian, kakak ku kembali meributkan warisan yang kenapa tidak kunjung datang, seperti mengharap pemberian meski mengetahui itu adalah sudah menjadi hak kami.
Mengerti apa maksud dan tujuan yai, Abah pun hanya diam dan ikhlas untuk tidak lagi memikirkan apalagi meminta kembali haknya. Abah menasehati kami semua agar tidak lagi menuntut warisan dari Nyai kepada Yai.

Sempat tidak kami hiraukan mengenai warisan, namun karena perekonomian keluarga saat itu sangat menyedihkan, dengan rumah kontrakan yang seadanya dengan 2 kamar tanpa listrik, yang apabila hujan deras tak menutup kemungkinan air hujan masuk hingga mata kaki dan mengalir kesemua tempat. Dan kalau dalam keadaan banjir, orang tua ku tetap senyum, menyemangati kami anak-ananknya yang seolah-olah banjir itu adalah permainan. Usaha ikut aliran Listrik tetangga dengan hanya bisa melihat cahaya lampu dari pukul 6 sore hingga pukul 6 pagi adalah solusi kami keluar dari kegelapan, rasa takut akan kehadiran banjir di malam hari. Keadaan ini mau tidak mau membuat kakak ku mencoba lagi mendatangi Yai, dengan menahan amarahnya, tapi setibanya disana, kakak malah mendapat perlakuan yang tidak pantas oleh anak-anak Yai. Dan yai pun tetap memberi janji yang sama.  Menahan rasa sakit hati, kakak Ku pulang dengan tetap bisa menahan kemarahannya dengan memikirkan kesabaran Abah dirumah yang luar biasa sabarnya itu.

Abah adalah orang yang paling mengerti mengenai agama, oleh karena itu Abah mengikhlaskan apa yang terjadi padanya, dengan berusaha keras, Abah tetap bisa menghidupi istri dan 7 anaknya dengan berbagai karakter. Terlepas dari iti Abah tidak lepas dari kewajibannya sebagai seorang muslim dan contoh untuk kami. Abah selalu shalat 5 waktu dan shalat sunah, mendengar ceramah dari radionya yang sudah seumur Ku, membaca Al-Quran adalah kegemaranya dari kecil, hingga sekarangpun masih Abah lakukan setelah shalat. Sempat aku bertanya, "sudah berapa kali Abah hatam baca Al-Quran?" Abah pun menjawab "terakhir menghitung sudah 20 kali, tapi iti sewaktu di madrasa".

Abah tidak pernah memarahi kami, selalu mendoakan dan mendukung apa yang dikerjakan anak-anaknya. Diamnya Abah membuat kami segan untuk berkomunikasi yang berlebihan walaupun hanya untuk bercengkrama. Dan lebih memilih Ibu sebagai tempat jika kami ingin bercengkrama. Namun jika mengenai agama, Abahlah orang pertama yang kami cari untuk bertanya. Walaupun kami ada salah, Abah tetap diam, namun memperlihatkan kemarahannya dengan memberi contoh dari sikapnya. Beberapa contoh yang aku tau dari sikap yang Abah perlihatkan ialah bangun tengah malam untuk shalat tahajud, bagun pagi sebelum adzan subhu, mengerjakan shalat 5 waktu dan shlata sunah, meluangkan waktu untuk membaca Al-Quran dan artinya, mendengarkan ceramah, tidak mau meminta-minta walaupun keadaan susah, kerja keras, percaya dengan penuh dan sabar atas takdir Allah SWT.

Sekarang kami semua sudah mandiri, dengan beragam penghasilan. Namun tetap saja Abah tidak mau duduk diam mengharap pemberian anak-anaknya, Abah memang tidak lagi berjualan di sekolah dasar seperti dulu, namun Abah menjual barang-barang bekas yang apabila tetangga ada yang menjual plastik dan kardus yang tak lagi di gunakan, seringkali Abah keluar rumah dan menjual kardus-kardus dan plastik hanya karena tidak mau lama-lama istirahat di rumah. Kami tak ingin terjadi sesuatu dengan Abah, tak terhitung lagi berapa kali kami melarangnya untuk tidak lagi menjual barang-barang bekas itu, tapi Abah tetaplah Abah, jawaban yang kami dapat darinya tak bisa kami jawab lagi, "pekerjaan ini halal nak, duduk manis tidak menghasilkan apapun, dan Alhamdulillah, Allah SWT masih memberikan rizky di usia yang mungkin kebanyakan orang tidak bisa lagi berbuat" dan Abah sedikit melucu di tengah-tengah renungan ku "Lagian badan ini merasa sakit kalau tidak bekerja". Aku hanya senyum dan pergi. Mengucap syukur kepada Allah SWT atas kelahir Ku dari orang tua yang kaya akan ilmu agama membuatku bangga tak terhingga.

Sikap dan prilakunya itu yang membuat kami manaruh niat untuk Insha Allah menaikkan haji Abah. Memulai menabung untuk biaya keberangkatannya adalah rencana mulia kami sebagai anak dalam membalas kasih sayangnya, walaupun itu kasih sayang itu tidak pernah bisa terbayarkan oleh apapun. Kami berharap disetiap doa yang kami panjatkan kepada Allah SWT, agar Abah dan Ibu serta keluarga kami sehat dan panjang umur, hingga apa yang kami rencanakan bisa terwujud. Dan selagi kami menabung, kami tetap bisa berkumpul dengan melewati Ramadhan, merayakan Idul fitri dan Idul Adha bersama-sama,  amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar