Kamis, 22 Mei 2014

Sedih, harap ku benar



Sedih, harap ku benar

Hal baru selalu menjadi pemikiran, mendapat yang baik tak selalu mudah—mengharap tak turun hujan dari awan gelap yang sudah berkumpul, takut akan gemuruh dari atas langit—menjadikan kekosongan bagi aku yang belum berkawan ini. Namun tetap menanti cahaya terang meski sudah petang, esok kan menjadi impian dengan cahaya dari langit yang merestui.
Perjalanan panjang dari kota ke kota—memutuskan untuk berdiam di Palembang. Ibu kota tak menjadi hal yang menakutkan, karena niat yang suci masih di bawa di setiap doa—restu orang tua—memutuskan beralih profesi dan masuk dalam dunia baru Media Service. Media service  salah satu department yang ada di dalam dunia pertelevisian, yang terletak di bangunan kantor Metro Tv yang paling kiri kalau kita berjalan dari arah perumahan taman indah—Kurang lebih 100 m setelah gedung Media Indonesia. Perumahan taman indah yang di dalamnnya ada banyak karyawan Metro Tv dan anak-anak magang mengontrak disana. Bila jam istirahat ataupun jam pulang seragam biru hilir-mudik melewati gerbang perumahan itu.
Tapi aku tetap stay di kantor walau bisa pulang untuk merebahkan badan ku bila istirahat setelah makan siang di cafe. Susah payah menyibak ke ruangan sebelah, lega ketika sudah makan dan sholat dzuhur. Menghidupkan lagu-lagu kesukaan dan Duduk di ruangan dengan mengarah ke pintu masuk agar bisa segerah menandai. Tak ada kontak –off.
Teman sesama magang denganku datang membawa makanan dan minuman—sambil bernyanyi lagu kesukaan dan bertanya, “dari mana?” Temanku menjawab, dari mini market dan beli kado “buru-buru cari mini market padahal kami belum makan siang …”
Aku mengangguk. Mencari lagu-lagu lain dan kembali diganggu pertanyaan: kenapa aku jadi memikirkan yang mereka beli? Bagaimana jika aku yang dapat kado itu? Kenapa jadi ingin melihatnya, serta membantu membungkus kadonya? Aku diam menyimak tajam headline news di dinding kantor, sambil mencerna cerita teman magangku tentang mereka yang buru-buru ke mini market dan belum makan siang padahal cafe dua menit dari parkir kendaraannya.
 “Bingung beli apa, dit” katanya, “jadi dia cuma beli gelas yang langsung dengan kotaknya”. Aku mengangguk. Apa ini penting? Apa itu ada gunanya kalau lebih banyak hal prinsipil telah diabaikan di negeri ini? Seperti rencana ke puncak hari ini, yang di rencankan dari kantor dimana tempat aku magang. Yang meskipun bisa saja aku tinggalkan dan memilih istirahat di kamar kecilku—yangtak kurang dari lima menit untuk pulang—tapi malah memutuskan untuk pergi dan berharap tidak ada dia disana nantinya.
 Jalan-jalan merupakan tradisi di bagian ini, beruntungnya saat aku magang saat itu juga hiburan itu ada. Rencana awal tak satupun penunggu ruangan, dan tukar kado salah satu pengisi acara setiba di puncak—aku hanya menunggu petang untuk ke puncak Bogor—dengan waktu yang berbeda-beda karena pekerjaan asal semua sampai disana.
                                                                        ***
Villa Dolken merupakan rumah (penginapan) beratapkan hamparan jerami dan kayu besar sebagai dindingnya—biru air kolam di tengah-tengah sesaat menghilangkan penat, dataran tinggi dan rerumputan serta angin deras dari keluasan menenangkan sifat menyerap panas dari aspal yang dilalui.
Pemikiran yang konyol, karena aku harus bersenang-senang dengan orang yang tak ingin aku lihat. Aku larang untuk menghubungi dan mengetahui semua kegiatanku—Setelah sampai di puncak dan parkir di Villa Dolken. Gila!
Dan itu: apa kemanjaan atau ritual awal yang sudah menguasai dan mengendalikan aku?
“Sial…!” gumamku. Membawa  jacket  dan tas, menuju kamar yang sudah diberi nama di depan pintu, merasakan desiran angin—meski teling dipenuhi kicauan teman-teman yang membicarakan dua mobil yang sepertinya tidak jadi berangkat karena pekerjaan yang belum rampung. Aku mencoba memainkan handphone agar tidak ikut memikirkan apa yang sedang dibicarakan. Mencoba meneguk air mineral untuk menenangkan pikiranku. Namun masih saja terdengar dan sempat menggambarkan hal itu dibenakku. Mendekati teman-teman yang lain yang berada di dekat kolam dengan membawakan cemilan dan minuman yang kami bawa dari kantor.
Aku mulai lupa akan kejengkelanku dan menikmati hiburan yang ada, tanpa dia tentunya—menenangkan emosi yang tadinya mendidih didera jenkel dan pitam oleh gelisah bila melihatnya—setelah tiga jam berada disana, tiga mobil tidak kunjung datang.
“Apa yang sebenarnya terjadi dengan diriku, kenapa aku jadi begitu dungu dan mau di bodohi perasaan sendiri?” gumamku.
Angin berhembus, semakin larut—asap sate—sampai di hidung bersama dingin yang penuh kebingungan. Di jalanan yang tidak tau akan tiba pukul berapa, kilasan yang mengajarkan fantasi liar, dengan membayangkan terguling dan meledak bersama percik bunga api dari gelusuran mobil pribadi di aspal—hanya mengisi pikiran yang sedang kosong.
Tapi tidak apa-apa sampai empat jam itu. Aku meraih HP dan mencari gambaran. Ada isyarat akan tiba—tapi hanya dengan caraku. Tak mau terlihat. Aku menarik nafas. “Dia ada atau tidak di dalam mobil yang melaju itu?” desisku. Apa hanya tiga mobil yang akan tiba , tanpa dia yang tak ingin aku liat sebelumnya. Meski kamar kecilku dekat dengan kontrakannya, tetap saja membuatku jengkel dibuatnya—dari perdebatan yang menghiasi perjalanan kami di ibu kota.
                                                                        ***
Dua tahun lalu, ketika pertama masuk kuliah–setelah pontang-panting mengikuti perkuliahan dengan keringat seehabis pulang kerja—serta ada dana untuk membeli motor: aku merasa benar-benar nyaman kuliah. Tapi, banyak teman dan bangga dengan pekerjaanku: aku sebenarnya minder.
Di luar pekerjaan aku merasa cuma anak sih swasta yang tak aktif yang mencoba mengetahui cara pergaulan di kota—penampilan wangi, pakaian bagus, serta cara hidup yang penuh dengan belanja dan traktir makan. Suasana batin ‘aku ini bukan siapa-siapa’ kekal menaungi kubah perasaan, menyebabkan selalu terbentang jurang dengan jembatan cemas akan menolak setiap akan ada yang menyukai.
Rasa yang selalu menghantui dan terus muncul mengikuti seperti bayangan, tak peduli banyak sejawat dan bawahan yang mengapresiasiku sebagai perempuan yang punya potensi dan bermasa depan cerah. Perasaan anak swasta yang tak aktif, yang tersesat di tengah kampus nasional di antara anak-anak orang mapan itu tak pernah bisa dihapus, karenanya semua kecemasan dan kekecewaan itu dilarikan ke dalam kerja gila-gilaan.
Dua teman yang selalu menghibur selama empat jam di kampus lebih dari cukup membuatku tersenyum, salah satunya dia. Menyimpulkan nama menjadi kecebong adalah caraku untuk menganggap kami selalu ada. Sama halnya pacar yang tak ada kabar dari kekasihnya, tak ada satu dari kecebong, jadi menambah pertanyaan—jita tak ada di depan mata.
Pada mulanya duduk di kanan tempat duduknya, saat enggan duduk di belakang, yang selalu menggangu konsentrasi saat belajar. Sambil menunggu dosen ke dua, ada banyak teman yang bercerita. Semua hanya perbincangan ringan, kecuali yang aku anggap kecebong ini terasa nyaman saat kami bercanda-gurau.
Selalu ada perdebatan yang terjadi, yang saya anggap itu hal biasa—berlangsung lama. Aku sering mengucapkan hal-hal yang aku anggap biasa bila di dengar mereka. “justru yang membuat saya kangen dengan kalian adalah perdebatan seperti ini, malam tanpa bintang itu kurang cantik”
Dia menjawab, “Tapi kalau keseringan berdebat itu juga tidak baik, apalagi sampai tidak ada tegur sapa berhari-hari”. Semester tiga—memutuskan untuk magang ke Jakarta, enam bulan juga bersama dia—satu kecebong tetap tinggal di Palembang. Berjanji pada diri kalau pun ada hal yang di perdebatkan kecebong akan tetap ada—menghargai mereka. Meski berulangkali rasa malas, marah dan benci merasuki pikiran ini—tak sejalan.
Senang karena ada yang menjaga dan mengawasi selama di kota orang, tapi tetap perdebatan tak hilang. Sering merasa bisa melakukan segala sesuatu membuatku tak membutuhkan dia—selalu dalam perhatiannya. Hiburan dan makanan selalu diusahankanya untuk ku. Berdetak jantung dan berpikir apa yang membuatnya jauh berbeda dari biasa.
“Kenapa malas makan, bagaimana kalau sakit? minum saja bisa lupa, apa lagi makan” katanya. Dan aku menjawab: aku makan jika aku merasa lapar dan itu juga jika aku mau memakan makanan itu, tidak asal makan—memperhatikan dan menjaga makanan ku. Manja dan sifat tak peduliku bisa diatasinya berdasarkan rasa empatinya terhadapku. Pintkau: jangan ada perasaan yang merubah rasa dan hubungan ini yang kita bangun dari awal aku duduk di kanan bangkunya.
                                                                        ***
Riuh mobil dan suara gembira setelah berlama-lama diperjalanan pun terdengar, tiba dengan wajar tak cerah namun tetap memberikan senyum—Acara tukar kado—silir berganti membuka kertas nama-nama yang di undi dalam gelas dan saling memberikan kado bagi nama yang terambil—mengangkat satu kertas namun ku kembalikan dan mengambil kertas yang lain, menyebut namanya pun enggan sama seperti yang ku gambarkan siang hari. kenapa harus namanya yang ku ambil—kado darinya.
Siapa yang tau apa yang akan terjadi esok—pikiran ku hanya satu, untuk ku segerahkan tidur dan melupakan yang terjadi malam ini. “Anggap saja aku bermimpi terlebih dulu, kini aku harus tidur” gumamku. Permainan satu-persatu dimainkan dengan keceriaan yang di perlihatkan—tak ada yang tau biru air kolam itu akan menjadi tempat terakhir kami dalam menghabiskan waktu di Vila Dolken.
Tak butuh pelampung mahal dan kaca mata renang yang bagus, saat masuk ke kolam dengan dorongan yang tak bisa ku helakkan lagi dari mereka yang menemukanku dari persembunyian. Kepanikan yang luar biasa ditambah dinginnya air kolam membuat ku belum sadar akan siapa yang menolong—berharap jangan pernah melepaskan tanganku—menepi.
Mengarah ke sudut kolam, baru terlihat siapa yang menolong ,“Kenapa kamu menolong saya?”. Pertanyaan yang muncul meski panik belum hilang, entah karena dia juga merasakan kepanikanku, tak dihiraukan dan tak ada jawaban atas pertanyaan itu.
Semakin penat memikirkn apa yang terjadi, tak ada ucapan terimakasih hanya senyum yang ku perlihatkan sebagai isyarat terimaksihku. Aku duduk dan merenungkan: kenapa harus dia? Kenapa harus dia?  Dan kenapa harus dia? Merapikan baju-baju dan bergegas untuk pulang karena pekerjaan sudah menanti—Satu mobil dengan dia, namun tak ada lagi rasa jengkel—Jakarta.
Last day  dan pulang ke Palembang, kembali memulai aktifitas yang biasa kami lakukan, yaitu kerja dan kuliah. Namun tidak dengan kebiasaan kami—jalan-jalan, makan dan shalat magrib bersama-sama. Merindukan sosok cerewet dan manja, menginginkan penengah dikalah perdebatan terjadi, mengharuskan ada bahan untuk di perdebatkan, itulah tiga kecebong.
Dan, setelah semua nampak berjalan seperti biasa—tak sama yang kami rasa. Ternyata menyadari kenapa perubahan itu terjadi menjelang aku berkawan termasuk dengan hujan yang besar sekalipun—tetapi tetap ada senyum diantara kecebong. Karena aku bisa apa? Bisa apa aku! Lemah dan papa di hadapan misteri Ilahi yang membungkam itu. Mutlak minder sebagai sahaya dan kami yang haya bisa berharap sekedar ingin punya teman yang baik, bahkan pendamping hidup yang terbaik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar