Sedih,
harap ku benar
Hal
baru selalu menjadi pemikiran, mendapat yang baik tak selalu mudah—mengharap
tak turun hujan dari awan gelap yang sudah berkumpul, takut akan gemuruh dari
atas langit—menjadikan kekosongan bagi aku yang belum berkawan ini. Namun tetap
menanti cahaya terang meski sudah petang, esok kan menjadi impian dengan cahaya
dari langit yang merestui.
Perjalanan
panjang dari kota ke kota—memutuskan untuk berdiam di Palembang. Ibu kota tak
menjadi hal yang menakutkan, karena niat yang suci masih di bawa di setiap
doa—restu orang tua—memutuskan beralih profesi dan masuk dalam dunia baru Media Service. Media service salah satu department yang ada di dalam dunia
pertelevisian, yang terletak di bangunan kantor Metro Tv yang paling kiri kalau
kita berjalan dari arah perumahan taman indah—Kurang lebih 100 m setelah gedung
Media Indonesia. Perumahan taman indah yang di dalamnnya ada banyak karyawan
Metro Tv dan anak-anak magang mengontrak disana. Bila jam istirahat ataupun jam
pulang seragam biru hilir-mudik melewati gerbang perumahan itu.
Tapi
aku tetap stay di kantor walau bisa
pulang untuk merebahkan badan ku bila istirahat setelah makan siang di cafe.
Susah payah menyibak ke ruangan sebelah, lega ketika sudah makan dan sholat
dzuhur. Menghidupkan lagu-lagu kesukaan dan Duduk di ruangan dengan mengarah ke
pintu masuk agar bisa segerah menandai. Tak ada kontak –off.
Teman
sesama magang denganku datang membawa makanan dan minuman—sambil bernyanyi lagu
kesukaan dan bertanya, “dari mana?” Temanku menjawab, dari mini market dan beli kado “buru-buru cari mini market padahal kami belum makan siang …”
Aku
mengangguk. Mencari lagu-lagu lain dan kembali diganggu pertanyaan: kenapa aku
jadi memikirkan yang mereka beli? Bagaimana jika aku yang dapat kado itu?
Kenapa jadi ingin melihatnya, serta membantu membungkus kadonya? Aku diam
menyimak tajam headline news di
dinding kantor, sambil mencerna cerita teman magangku tentang mereka yang
buru-buru ke mini market dan belum
makan siang padahal cafe dua menit
dari parkir kendaraannya.
“Bingung beli apa, dit” katanya, “jadi dia cuma
beli gelas yang langsung dengan kotaknya”. Aku mengangguk. Apa ini penting? Apa
itu ada gunanya kalau lebih banyak hal prinsipil telah diabaikan di negeri ini?
Seperti rencana ke puncak hari ini, yang di rencankan dari kantor dimana tempat
aku magang. Yang meskipun bisa saja aku tinggalkan dan memilih istirahat di
kamar kecilku—yangtak kurang dari lima menit untuk pulang—tapi malah memutuskan
untuk pergi dan berharap tidak ada dia disana nantinya.
Jalan-jalan merupakan tradisi di bagian ini,
beruntungnya saat aku magang saat itu juga hiburan itu ada. Rencana awal tak
satupun penunggu ruangan, dan tukar kado salah satu pengisi acara setiba di
puncak—aku hanya menunggu petang untuk ke puncak Bogor—dengan waktu yang
berbeda-beda karena pekerjaan asal semua sampai disana.
***
Villa
Dolken merupakan rumah (penginapan) beratapkan hamparan jerami dan kayu besar
sebagai dindingnya—biru air kolam di tengah-tengah sesaat menghilangkan penat,
dataran tinggi dan rerumputan serta angin deras dari keluasan menenangkan sifat
menyerap panas dari aspal yang dilalui.
Pemikiran
yang konyol, karena aku harus bersenang-senang dengan orang yang tak ingin aku
lihat. Aku larang untuk menghubungi dan mengetahui semua kegiatanku—Setelah
sampai di puncak dan parkir di Villa Dolken. Gila!
Dan
itu: apa kemanjaan atau ritual awal yang sudah menguasai dan mengendalikan aku?
“Sial…!”
gumamku. Membawa jacket dan tas, menuju kamar
yang sudah diberi nama di depan pintu, merasakan desiran angin—meski teling
dipenuhi kicauan teman-teman yang membicarakan dua mobil yang sepertinya tidak
jadi berangkat karena pekerjaan yang belum rampung. Aku mencoba memainkan handphone agar tidak ikut memikirkan apa
yang sedang dibicarakan. Mencoba meneguk air mineral untuk menenangkan
pikiranku. Namun masih saja terdengar dan sempat menggambarkan hal itu
dibenakku. Mendekati teman-teman yang lain yang berada di dekat kolam dengan
membawakan cemilan dan minuman yang kami bawa dari kantor.
Aku
mulai lupa akan kejengkelanku dan menikmati hiburan yang ada, tanpa dia
tentunya—menenangkan emosi yang tadinya mendidih didera jenkel dan pitam oleh
gelisah bila melihatnya—setelah tiga jam berada disana, tiga mobil tidak
kunjung datang.
“Apa
yang sebenarnya terjadi dengan diriku, kenapa aku jadi begitu dungu dan mau di
bodohi perasaan sendiri?” gumamku.
Angin
berhembus, semakin larut—asap sate—sampai di hidung bersama dingin yang penuh
kebingungan. Di jalanan yang tidak tau akan tiba pukul berapa, kilasan yang
mengajarkan fantasi liar, dengan membayangkan terguling dan meledak bersama percik
bunga api dari gelusuran mobil pribadi di aspal—hanya mengisi pikiran yang sedang
kosong.
Tapi
tidak apa-apa sampai empat jam itu. Aku meraih HP dan mencari gambaran. Ada
isyarat akan tiba—tapi hanya dengan caraku. Tak mau terlihat. Aku menarik nafas.
“Dia ada atau tidak di dalam mobil yang melaju itu?” desisku. Apa hanya tiga
mobil yang akan tiba , tanpa dia yang tak ingin aku liat sebelumnya. Meski
kamar kecilku dekat dengan kontrakannya, tetap saja membuatku jengkel dibuatnya—dari
perdebatan yang menghiasi perjalanan kami di ibu kota.
***
Dua
tahun lalu, ketika pertama masuk kuliah–setelah pontang-panting mengikuti
perkuliahan dengan keringat seehabis pulang kerja—serta ada dana untuk membeli
motor: aku merasa benar-benar nyaman kuliah. Tapi, banyak teman dan bangga
dengan pekerjaanku: aku sebenarnya minder.
Di
luar pekerjaan aku merasa cuma anak sih swasta yang tak aktif yang mencoba
mengetahui cara pergaulan di kota—penampilan wangi, pakaian bagus, serta cara
hidup yang penuh dengan belanja dan traktir makan. Suasana batin ‘aku ini bukan
siapa-siapa’ kekal menaungi kubah perasaan, menyebabkan selalu terbentang jurang
dengan jembatan cemas akan menolak setiap akan ada yang menyukai.
Rasa
yang selalu menghantui dan terus muncul mengikuti seperti bayangan, tak peduli
banyak sejawat dan bawahan yang mengapresiasiku sebagai perempuan yang punya
potensi dan bermasa depan cerah. Perasaan anak swasta yang tak aktif, yang
tersesat di tengah kampus nasional di antara anak-anak orang mapan itu tak
pernah bisa dihapus, karenanya semua kecemasan dan kekecewaan itu dilarikan ke
dalam kerja gila-gilaan.
Dua
teman yang selalu menghibur selama empat jam di kampus lebih dari cukup
membuatku tersenyum, salah satunya dia. Menyimpulkan nama menjadi kecebong
adalah caraku untuk menganggap kami selalu ada. Sama halnya pacar yang tak ada
kabar dari kekasihnya, tak ada satu dari kecebong, jadi menambah
pertanyaan—jita tak ada di depan mata.
Pada
mulanya duduk di kanan tempat duduknya, saat enggan duduk di belakang, yang selalu
menggangu konsentrasi saat belajar. Sambil menunggu dosen ke dua, ada banyak
teman yang bercerita. Semua hanya perbincangan ringan, kecuali yang aku anggap
kecebong ini terasa nyaman saat kami bercanda-gurau.
Selalu
ada perdebatan yang terjadi, yang saya anggap itu hal biasa—berlangsung lama.
Aku sering mengucapkan hal-hal yang aku anggap biasa bila di dengar mereka. “justru
yang membuat saya kangen dengan kalian adalah perdebatan seperti ini, malam
tanpa bintang itu kurang cantik”
Dia
menjawab, “Tapi kalau keseringan berdebat itu juga tidak baik, apalagi sampai
tidak ada tegur sapa berhari-hari”. Semester tiga—memutuskan untuk magang ke
Jakarta, enam bulan juga bersama dia—satu kecebong tetap tinggal di Palembang.
Berjanji pada diri kalau pun ada hal yang di perdebatkan kecebong akan tetap
ada—menghargai mereka. Meski berulangkali rasa malas, marah dan benci merasuki
pikiran ini—tak sejalan.
Senang
karena ada yang menjaga dan mengawasi selama di kota orang, tapi tetap
perdebatan tak hilang. Sering merasa bisa melakukan segala sesuatu membuatku
tak membutuhkan dia—selalu dalam perhatiannya. Hiburan dan makanan selalu
diusahankanya untuk ku. Berdetak jantung dan berpikir apa yang membuatnya jauh
berbeda dari biasa.
“Kenapa
malas makan, bagaimana kalau sakit? minum saja bisa lupa, apa lagi makan”
katanya. Dan aku menjawab: aku makan jika aku merasa lapar dan itu juga jika
aku mau memakan makanan itu, tidak asal makan—memperhatikan dan menjaga makanan
ku. Manja dan sifat tak peduliku bisa diatasinya berdasarkan rasa empatinya
terhadapku. Pintkau: jangan ada perasaan yang merubah rasa dan hubungan ini
yang kita bangun dari awal aku duduk di kanan bangkunya.
***
Riuh
mobil dan suara gembira setelah berlama-lama diperjalanan pun terdengar, tiba
dengan wajar tak cerah namun tetap memberikan senyum—Acara tukar kado—silir
berganti membuka kertas nama-nama yang di undi dalam gelas dan saling
memberikan kado bagi nama yang terambil—mengangkat satu kertas namun ku
kembalikan dan mengambil kertas yang lain, menyebut namanya pun enggan sama
seperti yang ku gambarkan siang hari. kenapa harus namanya yang ku ambil—kado
darinya.
Siapa
yang tau apa yang akan terjadi esok—pikiran ku hanya satu, untuk ku segerahkan
tidur dan melupakan yang terjadi malam ini. “Anggap saja aku bermimpi terlebih
dulu, kini aku harus tidur” gumamku. Permainan satu-persatu dimainkan dengan
keceriaan yang di perlihatkan—tak ada yang tau biru air kolam itu akan menjadi tempat
terakhir kami dalam menghabiskan waktu di Vila Dolken.
Tak
butuh pelampung mahal dan kaca mata renang yang bagus, saat masuk ke kolam
dengan dorongan yang tak bisa ku helakkan lagi dari mereka yang menemukanku
dari persembunyian. Kepanikan yang luar biasa ditambah dinginnya air kolam
membuat ku belum sadar akan siapa yang menolong—berharap jangan pernah
melepaskan tanganku—menepi.
Mengarah
ke sudut kolam, baru terlihat siapa yang menolong ,“Kenapa kamu menolong saya?”.
Pertanyaan yang muncul meski panik belum hilang, entah karena dia juga
merasakan kepanikanku, tak dihiraukan dan tak ada jawaban atas pertanyaan itu.
Semakin
penat memikirkn apa yang terjadi, tak ada ucapan terimakasih hanya senyum yang
ku perlihatkan sebagai isyarat terimaksihku. Aku duduk dan merenungkan: kenapa
harus dia? Kenapa harus dia? Dan kenapa
harus dia? Merapikan baju-baju dan bergegas untuk pulang karena pekerjaan sudah
menanti—Satu mobil dengan dia, namun tak ada lagi rasa jengkel—Jakarta.
Last day dan pulang ke Palembang, kembali memulai
aktifitas yang biasa kami lakukan, yaitu kerja dan kuliah. Namun tidak dengan
kebiasaan kami—jalan-jalan, makan dan shalat magrib bersama-sama. Merindukan
sosok cerewet dan manja, menginginkan penengah dikalah perdebatan terjadi,
mengharuskan ada bahan untuk di perdebatkan, itulah tiga kecebong.
Dan,
setelah semua nampak berjalan seperti biasa—tak sama yang kami rasa. Ternyata
menyadari kenapa perubahan itu terjadi menjelang aku berkawan termasuk dengan
hujan yang besar sekalipun—tetapi tetap ada senyum diantara kecebong. Karena
aku bisa apa? Bisa apa aku! Lemah dan papa di hadapan misteri Ilahi yang
membungkam itu. Mutlak minder sebagai sahaya dan kami yang haya bisa berharap
sekedar ingin punya teman yang baik, bahkan pendamping hidup yang terbaik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar